Sendawa Terus Menerus, Kenali Tanda Bahaya dan Waktu Periksa Dokter Sendawa merupakan proses alami tubuh untuk mengeluarkan udara dari saluran pencernaan bagian atas. Kondisi ini biasanya muncul setelah makan, minum, berbicara sambil mengunyah, atau mengonsumsi minuman berkarbonasi. Meski umumnya tidak berbahaya, sendawa yang terjadi terus menerus hingga mengganggu kegiatan dapat menandakan kebiasaan menelan udara secara berlebihan atau gangguan kesehatan tertentu.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases menyebut seseorang dapat bersendawa hingga sekitar 30 kali dalam sehari. Jumlah tersebut tidak selalu disadari karena sebagian sendawa berlangsung kecil dan tidak menimbulkan suara. Karena itu, frekuensi bukan satu satunya ukuran untuk menentukan apakah sendawa masih normal. Keluhan penyerta dan perubahan dari kebiasaan sebelumnya perlu ikut diperhatikan.
Sendawa sebaiknya diperiksa apabila muncul jauh lebih sering dari biasanya, berlangsung berkepanjangan, mengganggu tidur, menghambat makan, atau disertai nyeri, muntah, penurunan berat badan, sulit menelan, dan tanda perdarahan saluran cerna. Pada keadaan tertentu, keluhan yang dianggap berasal dari lambung juga dapat menyerupai gangguan jantung sehingga tidak boleh diabaikan.
Sendawa Terjadi ketika Udara Keluar melalui Mulut
Udara dapat masuk ke saluran pencernaan saat seseorang makan, minum, berbicara, atau menelan ludah. Udara tersebut kemudian terkumpul di kerongkongan atau lambung sebelum keluar kembali melalui mulut.
Mayo Clinic menjelaskan sebagian besar sendawa disebabkan oleh udara yang tertelan. Udara tersebut bahkan sering belum mencapai lambung dan hanya berkumpul di kerongkongan sebelum dikeluarkan. Kebiasaan makan cepat, berbicara sambil makan, mengunyah permen karet, mengisap permen keras, dan minum dengan sedotan dapat meningkatkan jumlah udara yang tertelan.
Minuman bersoda juga melepaskan gas karbon dioksida di dalam saluran pencernaan. Gas tersebut harus dikeluarkan sehingga seseorang lebih sering bersendawa setelah minum soda, bir, air berkarbonasi, atau minuman energi tertentu.
Sendawa sesekali setelah makan dalam jumlah besar biasanya tidak perlu dikhawatirkan. Keluhan mulai perlu dinilai ketika terjadi berulang tanpa hubungan jelas dengan makanan atau tetap muncul meskipun kebiasaan makan telah diperbaiki.
Menurut penulis, perubahan pola menjadi petunjuk yang lebih berguna daripada sekadar menghitung jumlah sendawa. Orang yang sebelumnya jarang bersendawa tetapi mendadak mengalaminya sepanjang hari perlu memperhatikan gejala lain yang ikut muncul.
Kebiasaan Menelan Udara Menjadi Penyebab Paling Umum
Menelan udara berlebihan dikenal sebagai aerofagia. Kondisi ini dapat terjadi tanpa disadari, terutama pada orang yang makan terburu buru, sering berbicara, merokok, memakai gigi palsu yang longgar, atau bernapas melalui mulut.
Rasa cemas juga dapat membuat seseorang bernapas lebih cepat dan lebih sering menelan. Udara kemudian keluar sebagai sendawa berulang, meskipun tidak terdapat produksi gas berlebihan di dalam lambung.
Pada sebagian orang, sendawa dapat berulang setiap beberapa detik. Pola ini terkadang berhenti ketika orang tersebut tidur atau sedang tidak memperhatikan keluhannya. Keadaan semacam itu dapat mengarah pada supragastric belching, yaitu udara ditarik ke kerongkongan lalu segera dikeluarkan sebelum masuk ke lambung.
American Gastroenterological Association menjelaskan pemeriksaan riwayat, pemeriksaan fisik, serta pemantauan pH dan impedansi kerongkongan dapat membantu membedakan sendawa yang berasal dari lambung dengan sendawa supragastrik. Terapi perilaku seperti latihan napas diafragma, terapi bicara, dan terapi kognitif dapat digunakan pada kondisi supragastrik.
Sendawa Berulang Bukan Berarti Hanya Dibuat Buat
Sendawa supragastrik sering berkaitan dengan kebiasaan tubuh yang berkembang tanpa disadari. Pasien tidak selalu dapat menghentikannya hanya dengan diminta menahan sendawa.
Gejala tersebut merupakan gangguan yang dapat dinilai secara medis. Dokter dapat mengamati pola keluhan, hubungan dengan stres, waktu muncul, serta apakah sendawa berhenti saat berbicara, tidur, atau mengalihkan perhatian.
Penanganannya berbeda dari keluhan akibat asam lambung. Obat penekan asam belum tentu membantu apabila sumber utamanya adalah pola keluar masuk udara di kerongkongan. AGA menempatkan terapi perilaku yang menghubungkan kerja otak dan saluran cerna sebagai pilihan penting untuk kondisi ini.
Refluks Asam Bisa Memicu Sendawa Berlebihan
Penyakit refluks gastroesofagus atau GERD terjadi ketika isi lambung berulang kali naik menuju kerongkongan. Keluhannya dapat berupa rasa panas di dada, cairan asam naik ke tenggorokan, mual, batuk kronis, suara serak, atau nyeri saat menelan.
Sendawa tidak selalu menjadi gejala utama GERD, tetapi refluks dapat mendorong seseorang lebih sering menelan untuk membersihkan rasa asam di tenggorokan. Semakin banyak udara tertelan, semakin sering pula sendawa terjadi.
NIDDK menjelaskan GERD biasanya menyebabkan heartburn dan regurgitasi. Namun, tidak seluruh pasien mengalami kedua keluhan tersebut. Sebagian orang justru datang dengan nyeri dada, mual, gangguan menelan, batuk, atau suara serak.
Sendawa yang disertai rasa panas setelah makan, rasa pahit di mulut, atau keluhan memburuk saat berbaring patut dibicarakan dengan dokter. GERD yang berlangsung lama dapat menyebabkan radang kerongkongan, penyempitan, dan perubahan jaringan tertentu apabila tidak ditangani.
Dispepsia Membuat Perut Cepat Penuh dan Sering Bersendawa
Dispepsia merupakan kumpulan keluhan pada perut bagian atas. Gejalanya dapat berupa nyeri, rasa terbakar, cepat kenyang, perut terasa terlalu penuh setelah makan, mual, kembung, dan sendawa.
Sebagian besar kasus dispepsia kronis termasuk dispepsia fungsional. Pada kondisi ini, pemeriksaan tidak menemukan luka atau penyakit struktural yang menjelaskan seluruh keluhan. Gangguan diperkirakan berkaitan dengan hubungan kerja otak dan saluran cerna, sensitivitas lambung, serta pengosongan makanan.
Namun, keluhan serupa juga dapat ditemukan pada tukak lambung, radang lambung, infeksi Helicobacter pylori, dan beberapa penyakit lain. Karena itu, dokter akan melihat usia pasien, obat yang digunakan, pola makan, riwayat keluarga, serta keberadaan tanda bahaya sebelum menentukan pemeriksaan.
Keluhan yang hanya muncul sesekali setelah makan terlalu banyak dapat dipantau. Pemeriksaan diperlukan apabila rasa penuh, mual, nyeri ulu hati, dan sendawa terus berulang atau mengurangi jumlah makanan yang mampu dikonsumsi.
Gastritis dan Infeksi H. pylori Perlu Dipertimbangkan
Gastritis adalah peradangan pada lapisan lambung. Sementara itu, gastropati menggambarkan kerusakan lapisan lambung dengan tingkat peradangan yang dapat lebih sedikit.
Infeksi H. pylori menjadi penyebab penting gastritis kronis. Bakteri ini juga berkaitan dengan tukak lambung serta peningkatan risiko kanker lambung apabila infeksi berlangsung lama tanpa pengobatan.
Gejalanya dapat berupa nyeri atau tidak nyaman di perut atas, mual, muntah, mudah penuh, dan keluhan dispepsia. Sendawa saja tidak dapat digunakan untuk memastikan infeksi H. pylori.
Diagnosis dapat dilakukan melalui tes napas, pemeriksaan tinja, endoskopi, atau metode lain berdasarkan penilaian dokter. Apabila infeksi ditemukan, pengobatan umumnya memakai kombinasi obat untuk membasmi bakteri dan mengendalikan asam lambung. Pemeriksaan ulang dapat disarankan setelah terapi selesai untuk memastikan bakteri sudah hilang.
Mengonsumsi antibiotik tanpa pemeriksaan tidak dianjurkan. Pengobatan yang tidak sesuai dapat gagal membasmi bakteri dan meningkatkan resistansi antibiotik.
Pengosongan Lambung yang Lambat Dapat Memicu Keluhan
Gastroparesis terjadi ketika pergerakan makanan dari lambung menuju usus halus melambat atau berhenti, meskipun tidak terdapat penyumbatan. Kondisi ini dapat berkaitan dengan diabetes, kerusakan saraf setelah operasi, gangguan saraf tertentu, atau obat yang memperlambat gerakan lambung.
Gejalanya meliputi cepat kenyang, tetap merasa penuh lama setelah makan, mual, muntah, kembung, nyeri perut bagian atas, dan sendawa berlebihan.
Pasien diabetes perlu lebih waspada apabila sendawa disertai mual, muntah makanan yang belum tercerna, kadar gula sulit dikendalikan, atau rasa penuh setelah makan dalam jumlah sangat sedikit.
Diagnosis gastroparesis tidak ditentukan hanya dari gejala. Dokter dapat melakukan pemeriksaan untuk mengukur seberapa cepat lambung mengosongkan makanan, sekaligus menyingkirkan sumbatan pada saluran pencernaan.
Obat Tertentu Bisa Memperberat Keluhan
Sejumlah obat dapat memengaruhi gerakan lambung, mengiritasi saluran cerna, atau memperburuk refluks. Obat antinyeri golongan antiinflamasi nonsteroid dapat meningkatkan risiko iritasi dan tukak pada sebagian pengguna.
Obat tertentu untuk diabetes atau penurunan berat badan dapat memperlambat pengosongan lambung. Beberapa obat penenang, obat tekanan darah, obat asma, dan antidepresan juga dapat memengaruhi gejala refluks pada sebagian pasien.
Pasien sebaiknya tidak menghentikan obat resep sendiri hanya karena mengalami sendawa. Catat nama obat, dosis, waktu mulai penggunaan, dan kapan gejala muncul, lalu sampaikan kepada dokter.
Dokter dapat menilai apakah obat mungkin berhubungan dengan keluhan, apakah dosis perlu diubah, atau apakah tersedia pilihan lain. Perubahan harus mempertimbangkan penyakit utama yang sedang ditangani.
Nyeri Dada Bersama Sendawa Bisa Menjadi Keadaan Darurat
Sebagian orang mengira nyeri dada selalu berasal dari gas atau asam lambung. Padahal, serangan jantung dapat memberikan rasa tertekan, penuh, terbakar, atau tidak nyaman yang menyerupai gangguan pencernaan.
Pertolongan darurat diperlukan apabila sendawa disertai tekanan atau nyeri dada, sesak napas, keringat dingin, pusing, lemas mendadak, atau nyeri yang menjalar ke rahang, leher, punggung, dan lengan. NIDDK juga menyarankan pertolongan segera ketika keluhan dispepsia disertai nyeri dada, rahang, leher, atau lengan serta kesulitan bernapas.
Jangan mencoba memastikan sendiri bahwa keluhan hanya berasal dari lambung. Pemeriksaan jantung membutuhkan penilaian tenaga kesehatan, rekaman listrik jantung, dan pemeriksaan lain.
Keadaan darurat juga mencakup pingsan, nyeri perut mendadak yang sangat berat, atau kesulitan bernapas. Mencari pertolongan lebih cepat jauh lebih aman daripada menunggu keluhan menghilang sendiri.
Muntah Darah dan Tinja Hitam Menandakan Perdarahan
Sendawa yang disertai muntah darah memerlukan pertolongan medis segera. Darah dapat tampak merah segar atau menyerupai bubuk kopi karena telah bercampur dengan asam lambung.
Tinja yang sangat gelap, lengket, dan menyerupai aspal juga dapat menunjukkan perdarahan dari saluran cerna bagian atas. Gejala lain dapat berupa pucat, lemah, berdebar, sesak, atau pusing ketika berdiri.
NIDDK menempatkan muntah darah, tinja hitam, nyeri perut berat yang menetap, dan sesak napas sebagai gejala yang harus segera dinilai dokter.
Perdarahan dapat berasal dari tukak, peradangan, robekan, atau penyebab lain. Penanganannya tidak dapat digantikan dengan antasida atau obat lambung yang dibeli sendiri.
Penurunan Berat Badan dan Sulit Menelan Tidak Boleh Diabaikan
Sendawa yang disertai berat badan turun tanpa direncanakan perlu diperiksa. Penurunan tersebut dapat terjadi karena pasien takut makan, cepat kenyang, sering muntah, mengalami gangguan penyerapan, atau mempunyai penyakit lain.
Sulit menelan dan nyeri ketika menelan juga termasuk tanda bahaya. Pasien mungkin merasa makanan tersangkut di dada, harus minum untuk mendorong makanan, atau mulai menghindari makanan padat.
NHS dan NIDDK menyarankan pemeriksaan apabila gangguan pencernaan disertai penurunan berat badan, kehilangan nafsu makan, sulit menelan, muntah berulang, anemia, darah pada muntah, atau tinja hitam.
Gejala tersebut tidak otomatis berarti kanker. Banyak kondisi lain dapat memberikan keluhan serupa. Namun, pemeriksaan tidak sebaiknya ditunda karena penyebabnya perlu diketahui lebih awal.
Kapan Harus Membuat Janji dengan Dokter
Sendawa berlebihan tanpa tanda darurat tetap perlu diperiksa apabila berlangsung terus, semakin sering, atau mengganggu kegiatan. Tidak ada satu batas jumlah yang berlaku untuk semua orang.
Buatlah janji dengan dokter apabila sendawa:
- Berlangsung berhari hari atau berminggu minggu dan tidak membaik
- Mengganggu tidur, makan, berbicara, bekerja, atau beribadah
- Disertai rasa panas di dada yang sering berulang
- Disertai nyeri ulu hati, mual, kembung, diare, atau sembelit
- Membuat perut cepat penuh setelah beberapa suap
- Muncul setelah memulai obat baru
- Disertai batuk kronis, suara serak, atau rasa asam di tenggorokan
- Terjadi setiap beberapa detik dan sulit dikendalikan
NIDDK menyarankan konsultasi ketika gejala gas berubah mendadak, sangat mengganggu, atau disertai nyeri perut, sembelit, diare, dan penurunan berat badan. Mayo Clinic juga menganjurkan pemeriksaan apabila gas terasa berat, tidak menghilang, atau menghambat kegiatan sehari hari.
Menurut penulis, sendawa tidak perlu langsung dianggap sebagai penyakit berat. Namun, mengabaikannya selama berbulan bulan juga bukan pilihan tepat apabila pola makan sudah diperbaiki dan gejala lain terus bertambah.
Dokter Akan Menelusuri Pola Sendawa dan Keluhan Penyerta
Pemeriksaan biasanya dimulai dari percakapan mengenai waktu munculnya sendawa. Dokter dapat bertanya apakah keluhan terjadi setelah makan, ketika cemas, saat berbicara, ketika berbaring, atau sepanjang hari.
Informasi mengenai makanan, minuman, rokok, obat, penyakit diabetes, riwayat operasi, berat badan, buang air besar, muntah, dan gangguan menelan juga diperlukan. Pemeriksaan fisik dapat meliputi mulut, leher, dada, serta perut.
NIDDK menjelaskan sebagian besar penyebab keluhan gas dinilai melalui riwayat medis dan pemeriksaan fisik. Tes tambahan dilakukan apabila dokter mencurigai penyakit tertentu.
Pemeriksaan dapat berupa tes H. pylori, darah, tes fungsi hati, ultrasonografi, endoskopi, tes pengosongan lambung, atau pemantauan pH dan impedansi kerongkongan. Tidak seluruh pasien membutuhkan semua pemeriksaan tersebut.
Endoskopi lebih mungkin dipertimbangkan apabila terdapat sulit menelan, perdarahan, anemia, muntah berkepanjangan, berat badan turun, atau keluhan yang tidak membaik dengan penanganan awal.
Catatan Harian Dapat Membantu Menemukan Pemicunya
Sebelum pemeriksaan, pasien dapat membuat catatan sederhana selama beberapa hari. Tuliskan jam makan, jenis makanan, minuman, obat, waktu sendawa, dan gejala lain.
Catat pula apakah sendawa lebih sering ketika tegang, berbicara lama, memakai masker, mengunyah permen karet, atau setelah minum kopi serta minuman bersoda.
Rekaman video singkat dapat membantu apabila pola sendawa sangat cepat tetapi tidak muncul ketika berada di ruang pemeriksaan. Video tidak digunakan untuk menetapkan diagnosis sendiri, melainkan memberi gambaran kepada dokter.
Jangan sengaja menghentikan semua jenis makanan sekaligus. Pembatasan terlalu luas dapat mengurangi asupan gizi dan menyulitkan penentuan pemicu yang sebenarnya.
Kebiasaan Makan Dapat Diperbaiki Lebih Dahulu
Apabila tidak terdapat tanda bahaya, beberapa perubahan dapat dicoba untuk mengurangi udara yang tertelan. Makanlah lebih lambat, kunyah sampai selesai, dan hindari berbicara ketika mulut masih penuh.
Kurangi minuman bersoda, permen karet, permen keras, sedotan, dan kebiasaan merokok. Pastikan gigi palsu terpasang dengan baik karena posisi yang longgar dapat membuat seseorang lebih sering menelan udara.
NIDDK menyebut pengurangan udara yang tertelan serta perubahan kebiasaan makan dan minum dapat membantu menurunkan keluhan gas. Penyesuaian makanan atau obat kemudian dilakukan berdasarkan penyakit yang menjadi penyebabnya.
Porsi lebih kecil dapat dicoba pada orang yang cepat penuh. Setelah makan, pertahankan posisi tegak dan hindari langsung berbaring, terutama apabila terdapat rasa panas di dada atau cairan asam naik ke tenggorokan.
Latihan napas diafragma dapat bermanfaat pada sendawa supragastrik, tetapi tekniknya sebaiknya dipelajari dari tenaga yang memahami gangguan tersebut. Latihan dilakukan dengan menggerakkan perut saat menarik napas, bukan mengangkat dada dan bahu.
Obat Lambung Tidak Boleh Dipakai Tanpa Evaluasi Terus Menerus
Antasida dapat meredakan rasa asam untuk waktu singkat, tetapi tidak menyelesaikan seluruh penyebab sendawa. Obat penekan asam juga tidak selalu diperlukan apabila keluhan terutama berasal dari kebiasaan menelan udara.
Pemakaian obat bebas harus mengikuti petunjuk pada kemasan dan mempertimbangkan penyakit lain. Pasien dengan penyakit ginjal, penyakit hati, kehamilan, atau penggunaan banyak obat sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Jangan memakai antibiotik untuk dugaan H. pylori tanpa pemeriksaan dan resep. Jangan pula mengonsumsi obat pelancar lambung milik orang lain karena sebagian obat dapat mempunyai efek pada irama jantung atau sistem saraf.
Apabila obat bebas dan perubahan kebiasaan tidak membantu, pemeriksaan dokter diperlukan. Penanganan dapat diarahkan pada GERD, gastritis, infeksi H. pylori, gangguan pengosongan lambung, atau sendawa supragastrik setelah penyebabnya dinilai.
Tanda Bahaya Perlu Diingat oleh Keluarga
Keluarga sebaiknya mengetahui bahwa sendawa menjadi lebih mengkhawatirkan ketika muncul bersama nyeri dada, sesak, keringat dingin, pingsan, muntah darah, tinja hitam, atau nyeri perut berat yang menetap.
Pertolongan segera juga diperlukan ketika pasien terus muntah, sangat lemah, mengalami demam, sulit minum, atau menunjukkan tanda kekurangan cairan. Pada penderita diabetes, muntah dan sulit makan dapat membuat kadar gula berubah tajam.
Pasien yang mengalami berat badan turun, nafsu makan hilang, cepat kenyang, sulit menelan, atau sendawa berulang selama beberapa minggu perlu membuat janji pemeriksaan meskipun masih dapat beraktivitas.
Sendawa yang tidak disertai tanda bahaya dapat mulai ditangani dengan memperlambat makan, mengurangi minuman berkarbonasi, menghentikan permen karet, dan mencatat pemicu. Apabila keluhan tetap muncul, dokter dapat menentukan apakah sumbernya berada pada kebiasaan menelan udara, lambung, kerongkongan, gerakan saluran pencernaan, atau pola sendawa supragastrik.
Comment