Perdebatan soal makan sambil minum es teh sudah lama beredar di meja makan orang Indonesia. Banyak yang percaya kebiasaan makan sambil minum es teh bisa merusak pencernaan, membuat lemak menumpuk, hingga memicu sakit maag. Di sisi lain, tak sedikit yang menganggap itu hanya mitos karena belum terbukti secara ilmiah. Kebiasaan makan sambil minum es teh sudah begitu melekat, terutama di warung makan, rumah makan padang, hingga restoran cepat saji, sehingga sulit dibayangkan kalau ternyata ada risiko di baliknya.
Mengapa Makan Sambil Minum Es Teh Jadi Perdebatan?
Di balik kelezatan sepiring nasi hangat dan segelas es teh manis, tersimpan pertanyaan yang terus berulang: benarkah makan sambil minum es teh bisa mengganggu kerja lambung dan usus? Kekhawatiran ini umumnya muncul dari anggapan bahwa minuman dingin dapat “membekukan” lemak, menghambat pencernaan, dan membuat perut mudah kembung. Kekhawatiran lain, kadar gula tinggi dalam es teh yang dinikmati bersamaan dengan makanan berlemak dianggap sebagai kombinasi yang berbahaya.
Sebagian orang mengaitkan keluhan seperti perut begah, cepat kenyang, atau mual setelah makan dengan kebiasaan minum es teh. Namun, hubungan sebab akibatnya sering kali tidak jelas. Apakah benar makan sambil minum es teh yang menjadi biang keladi, atau justru porsi makanan yang berlebihan, kebiasaan makan terburu buru, serta kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya
“Sering kali yang disalahkan adalah es teh, padahal pola makan secara keseluruhan jauh lebih menentukan daripada satu jenis minuman yang kita pilih di meja makan.”
Apa Yang Terjadi di Pencernaan Saat Makan Sambil Minum Es Teh?
Untuk memahami apakah makan sambil minum es teh betul betul berbahaya, perlu melihat bagaimana sistem pencernaan bekerja. Ketika makanan masuk ke mulut, proses pencernaan dimulai dari kunyahan dan bercampur dengan enzim di air liur. Setelah ditelan, makanan turun ke lambung, di mana asam lambung dan enzim pencernaan memecah makanan menjadi partikel yang lebih kecil.
Saat makan sambil minum es teh, cairan akan ikut masuk ke lambung dan bercampur dengan makanan. Suhu es teh yang dingin memang dapat menurunkan suhu sementara di lambung, namun tubuh memiliki kemampuan menyeimbangkan suhu internal dengan cepat. Artinya, perbedaan suhu ini biasanya tidak cukup kuat untuk “menghentikan” proses pencernaan.
Yang lebih berpengaruh justru adalah volume cairan yang diminum. Minum terlalu banyak es teh ketika makan bisa membuat lambung terasa penuh lebih cepat. Hal ini bisa memicu rasa begah, terutama pada orang yang lambungnya sensitif atau memiliki gangguan seperti dispepsia dan GERD. Namun, pada orang dengan pencernaan sehat, minum dalam jumlah wajar umumnya tidak menimbulkan masalah berarti.
Benarkah Lemak “Membeku” Kalau Makan Sambil Minum Es Teh?
Salah satu klaim paling populer adalah anggapan bahwa makan sambil minum es teh akan membuat lemak dari makanan “membeku” di dalam tubuh, lalu menempel di dinding usus atau pembuluh darah. Secara ilmiah, klaim ini tidak didukung bukti kuat. Suhu tubuh manusia berada di kisaran 36 sampai 37 derajat Celsius. Minuman dingin yang masuk ke tubuh akan cepat menyesuaikan dengan suhu ini.
Lemak dari makanan memang mengalami proses perubahan bentuk, tetapi bukan karena membeku akibat es. Lemak akan dipecah oleh enzim lipase di usus halus, dibantu cairan empedu dari kantong empedu. Proses ini terjadi terlepas dari apakah seseorang makan sambil minum es teh atau tidak. Jika lemak bisa “membeku” hanya karena minuman dingin, tubuh manusia tidak akan mampu mempertahankan fungsi pencernaan dengan baik.
Yang lebih penting diperhatikan adalah jumlah lemak yang dikonsumsi, frekuensi makan makanan berlemak, serta gaya hidup sehari hari. Kombinasi makanan tinggi lemak, karbohidrat berlebih, kurang gerak, dan kebiasaan minum manis berlebihan justru jauh lebih berperan dalam meningkatkan risiko kolesterol tinggi dan gangguan metabolik.
Es Teh, Gula, dan Risiko Bagi Kesehatan Pencernaan
Kebiasaan makan sambil minum es teh di Indonesia hampir selalu identik dengan es teh manis. Di sinilah salah satu masalah utama mulai muncul. Satu gelas es teh manis bisa mengandung beberapa sendok makan gula. Jika dikonsumsi bersama makanan tinggi karbohidrat seperti nasi putih dan lauk bergoreng, beban kerja tubuh untuk mengolah gula dan lemak sekaligus menjadi lebih berat.
Kelebihan gula tidak hanya berdampak pada kadar gula darah, tetapi juga bisa memengaruhi keseimbangan bakteri di usus. Mikrobiota usus yang terganggu dapat memicu keluhan seperti kembung, sering buang gas, hingga perubahan pola buang air besar. Pada sebagian orang, minuman manis juga dapat memperparah keluhan maag, terutama bila dikonsumsi dalam keadaan perut sangat penuh.
Di sisi lain, minum es teh tanpa gula atau dengan gula sangat sedikit tentu memberikan gambaran berbeda. Teh mengandung antioksidan seperti katekin dan polifenol yang justru dapat membantu melawan radikal bebas. Namun, saat es teh disajikan dengan gula berlebih, manfaat ini menjadi tertutupi oleh risiko konsumsi gula yang tinggi.
Pengaruh Suhu Dingin Es Teh Terhadap Lambung
Suhu minuman sering menjadi sorotan ketika membahas makan sambil minum es teh. Sebagian orang merasakan perut “kaget” atau tidak nyaman setelah menenggak minuman dingin saat makan. Sensasi ini dapat dijelaskan sebagai reaksi alami otot otot lambung dan pembuluh darah terhadap perubahan suhu mendadak.
Pada orang yang memiliki lambung sensitif, misalnya penderita maag kronis atau GERD, minuman sangat dingin bisa memicu rasa nyeri, perih, atau kembung. Bukan karena pencernaan rusak, melainkan karena dinding lambung mereka sudah lebih rentan. Pada kondisi seperti ini, kebiasaan makan sambil minum es teh memang sebaiknya dikurangi atau diatur dengan lebih hati hati.
Namun, pada orang dengan lambung sehat, tubuh biasanya mampu beradaptasi. Minuman dingin akan bersuhu mendekati suhu tubuh dalam waktu singkat. Tidak ada bukti kuat bahwa suhu es teh secara langsung merusak jaringan lambung atau usus, selama dikonsumsi dalam jumlah wajar dan tidak berlebihan.
Mitos dan Fakta Seputar Makan Sambil Minum Es Teh
Mitos seputar makan sambil minum es teh berkembang luas, terutama dari cerita turun temurun dan pesan berantai di media sosial. Beberapa klaim menyebutkan bahwa kebiasaan ini bisa menyebabkan usus kotor, batu empedu, hingga kanker. Namun, ketika ditelusuri, kebanyakan klaim tersebut tidak didukung oleh penelitian yang kredibel.
Faktanya, masalah pencernaan lebih sering disebabkan oleh faktor lain seperti infeksi, pola makan tinggi lemak jenuh dan rendah serat, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, stres berkepanjangan, serta kurang tidur. Makan sambil minum es teh mungkin berperan sebagai pemicu tambahan pada orang yang sudah memiliki faktor risiko, tetapi jarang menjadi penyebab tunggal.
“Alih alih menyalahkan es teh, lebih bijak jika kita mengevaluasi seluruh pola makan dan gaya hidup, mulai dari apa yang kita makan, seberapa sering, hingga seberapa aktif kita bergerak setiap hari.”
Kapan Makan Sambil Minum Es Teh Bisa Menjadi Masalah?
Ada beberapa kondisi di mana kebiasaan makan sambil minum es teh memang layak diwaspadai. Pada penderita diabetes atau pra diabetes, es teh manis dapat menyebabkan lonjakan gula darah tajam, apalagi jika diminum bersamaan dengan porsi nasi besar dan makanan manis lain. Hal ini bukan hanya membebani pankreas, tetapi juga berpotensi memicu keluhan lemas, mengantuk, dan lapar lebih cepat.
Pada orang dengan obesitas atau yang sedang berusaha menurunkan berat badan, es teh manis saat makan menambah asupan kalori “tak terlihat”. Seseorang bisa saja merasa hanya minum, padahal kalori dari gula dalam es teh ikut menyumbang secara signifikan. Bila kebiasaan ini berlangsung lama, berat badan cenderung sulit turun atau justru terus meningkat.
Selain itu, pada mereka yang memiliki gangguan lambung, minum dalam jumlah besar ketika makan dapat memperburuk rasa tidak nyaman. Perut terasa penuh, begah, dan mudah sesak. Dalam situasi seperti ini, mengurangi volume minum saat makan dan memilih suhu minuman yang tidak terlalu ekstrem bisa membantu meringankan keluhan.
Cara Lebih Bijak Menikmati Makan Sambil Minum Es Teh
Bagi banyak orang, sulit rasanya memisahkan kebiasaan makan sambil minum es teh dari rutinitas harian. Namun, kebiasaan ini masih bisa diatur agar lebih bersahabat bagi pencernaan dan kesehatan secara umum. Salah satu caranya adalah mengurangi tingkat kemanisan. Meminta es teh dengan gula terpisah atau “gula sedikit” bisa menjadi langkah awal yang realistis.
Mengatur waktu minum juga dapat membantu. Alih alih menghabiskan segelas es teh dalam sekali teguk di tengah makan, membaginya menjadi beberapa teguk kecil sejak awal hingga setelah selesai makan dapat mengurangi rasa begah. Selain itu, memperhatikan porsi makanan dan kecepatan makan sangat penting. Makan terlalu cepat sambil banyak minum membuat udara ikut tertelan dan memicu kembung.
Memilih es teh tanpa gula atau menggantinya dengan teh hangat tawar sesekali dapat menjadi alternatif yang lebih menyehatkan. Tubuh tetap mendapatkan cairan, sementara beban gula berlebih bisa dikurangi. Pada akhirnya, keseimbangan dan kesadaran diri dalam mengatur pola makan jauh lebih menentukan daripada melarang total satu jenis minuman.
Comment