Home » Blog » Tahapan Pernikahan Adat Betawi Paling Lengkap & Sakral
Blog

Tahapan Pernikahan Adat Betawi Paling Lengkap & Sakral

Pernikahan adat Betawi dikenal meriah, penuh warna, dan sarat simbol yang menggambarkan kehidupan masyarakat Jakarta tempo dulu. Di balik kemeriahan itu, terdapat rangkaian panjang tahapan pernikahan adat Betawi yang tersusun rapi, mulai dari proses perkenalan keluarga hingga resepsi. Setiap langkah memiliki arti, tata cara, dan aturan tidak tertulis yang dijaga turun-temurun, menjadikan prosesi ini bukan sekadar pesta, tetapi juga peristiwa budaya yang sangat dihormati.

Menyusuri Akar Tradisi Tahapan Pernikahan Adat Betawi

Sebelum masuk ke detail setiap prosesi, penting memahami bahwa tahapan pernikahan adat Betawi adalah perpaduan pengaruh budaya Melayu, Arab, Tionghoa, dan Jawa, yang menyatu dalam karakter masyarakat Betawi. Itulah mengapa dalam satu rangkaian pernikahan, kita bisa menjumpai unsur religius Islam yang kuat, diiringi musik tanjidor, palang pintu, hingga busana pengantin yang menyerupai raja dan ratu.

Di masyarakat Betawi, pernikahan bukan hanya urusan dua insan, tetapi juga peristiwa sosial yang menyatukan keluarga besar, tetangga, hingga lingkungan sekitar. Karena itu, rangkaian acaranya panjang dan melibatkan banyak pihak, dari sesepuh kampung sampai para jawara yang memeriahkan palang pintu.

“Semakin banyak tahapan yang dijalankan, semakin terasa bahwa pernikahan adalah momen sakral yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan harapan masa depan keluarga.”

Awal Mula: Dari Ngelamar Hingga Tunangan Resmi

Tahapan awal dalam pernikahan adat Betawi dimulai jauh sebelum hari akad. Di sinilah keluarga kedua calon pengantin mulai saling mengenal, berunding, dan menyepakati langkah bersama. Proses ini bukan sekadar formalitas, melainkan penegasan bahwa pernikahan adalah keputusan keluarga besar.

3 Idol K-Pop Generasi 2 Menikah, Satu Baru di 2026!

Ngelamar Sebagai Gerbang Tahapan Pernikahan Adat Betawi

Ngelamar adalah momen ketika keluarga pihak laki-laki mendatangi rumah calon mempelai perempuan untuk menyampaikan niat serius melamar. Dalam tahapan pernikahan adat Betawi, ngelamar menjadi tanda bahwa hubungan dua insan sudah naik ke tingkat yang lebih resmi.

Rombongan keluarga laki-laki biasanya datang dengan membawa hantaran sederhana, seperti kue tradisional, buah, dan beberapa bingkisan. Di ruang tamu, kedua keluarga duduk berhadapan, lalu juru bicara dari pihak laki-laki menyampaikan maksud kedatangan dengan bahasa yang halus dan penuh tata krama. Pihak perempuan kemudian memberikan jawaban, yang biasanya telah dibicarakan sebelumnya di internal keluarga.

Pada tahap ini, sering dibahas gambaran rencana ke depan: kapan kira kira pernikahan akan dilangsungkan, bagaimana kondisi calon pengantin, hingga kesesuaian nilai nilai agama dan keluarga. Walaupun suasananya santai, keputusan yang diambil di sini sangat menentukan kelanjutan hubungan.

Penentuan Hari Baik dan Pertunangan

Setelah lamaran diterima, tahapan berikutnya adalah menentukan hari baik. Dalam tradisi Betawi, pemilihan tanggal pernikahan sering melibatkan perhitungan tertentu, biasanya berdasarkan kalender hijriah atau perhitungan hari baik menurut orang tua atau sesepuh.

Pertunangan bisa dilakukan secara sederhana maupun lebih besar, tergantung kesepakatan keluarga. Pada momen ini, biasanya diserahkan cincin tunangan dari pihak laki-laki kepada perempuan, sebagai simbol ikatan dan keseriusan. Keluarga pun mulai mengabarkan kepada kerabat dan tetangga bahwa kedua calon sudah resmi bertunangan.

Doa Setelah Akad Nikah Paling Lengkap dan Mustajab

Rangkaian Menjelang Hari H: Siraman, Ngeuyeuk, dan Persiapan Lain

Memasuki hari hari menjelang akad, tahapan pernikahan adat Betawi semakin padat. Di sinilah calon pengantin dipersiapkan secara lahir dan batin untuk memasuki gerbang rumah tangga. Prosesi dilakukan terpisah antara mempelai laki-laki dan perempuan, namun maknanya saling melengkapi.

Siraman Sebagai Penyucian Diri dalam Tahapan Pernikahan Adat Betawi

Siraman adalah prosesi memandikan calon pengantin dengan air yang telah didoakan dan dicampur bunga. Dalam tahapan pernikahan adat Betawi, siraman dimaknai sebagai pembersihan diri dari hal hal buruk, agar pengantin memasuki pernikahan dengan hati yang bersih.

Calon pengantin duduk di tempat yang sudah dihias, biasanya di halaman atau ruangan khusus. Air siraman ditempatkan dalam gentong atau baskom besar, dicampur bunga tujuh rupa. Orang yang menyiram biasanya adalah orang tua, sesepuh keluarga, atau kerabat yang dituakan. Setiap siraman disertai doa, harapan, dan restu.

Selain siraman, sering pula dilakukan prosesi potong rambut sedikit atau merapikan alis sebagai simbol merapikan diri. Di beberapa keluarga Betawi, siraman dilakukan dengan iringan doa bersama dan pembacaan ayat ayat suci Al Quran.

Malam Pacar dan Ngerik: Keanggunan Calon Pengantin

Malam sebelum akad, ada tradisi menghias calon pengantin, yang dalam beberapa keluarga Betawi masih dilakukan. Calon pengantin perempuan biasanya dipakaikan pacar atau inai di kuku tangan dan kaki. Warna merah dari pacar melambangkan kecantikan, kebahagiaan, dan kesiapan menjadi istri.

5 Tahun Pertama Pernikahan Paling Berat, Ini Alasannya

Ada pula prosesi ngerik, yaitu merapikan rambut halus di sekitar wajah atau tengkuk, yang dilakukan oleh perias khusus. Prosesi ini menonjolkan keanggunan dan kerapian calon pengantin. Meski tampak sederhana, bagi keluarga Betawi tradisional, ini adalah momen emosional karena menjadi tanda bahwa anak gadis mereka akan segera melepas masa lajang.

Puncak Acara: Akad Nikah yang Khidmat dan Penuh Doa

Akad nikah adalah inti dari seluruh tahapan pernikahan adat Betawi. Tanpa akad, seluruh rangkaian adat tidak memiliki pijakan sah secara agama. Karena mayoritas orang Betawi beragama Islam, akad dilaksanakan sesuai syariat Islam, namun tetap diberi sentuhan adat lokal.

Prosesi Akad dalam Tahapan Pernikahan Adat Betawi

Pada hari akad, keluarga mempelai laki-laki datang ke rumah mempelai perempuan atau ke lokasi yang telah disepakati, seperti masjid atau gedung. Suasana dibuat khidmat, dengan pengantin laki-laki duduk berhadapan dengan wali nikah dan penghulu. Sementara itu, pengantin perempuan biasanya berada di ruangan terpisah atau di sisi lain, menunggu prosesi selesai.

Penghulu akan memimpin prosesi, mulai dari pembacaan khutbah nikah, ijab kabul, hingga doa. Ijab kabul menjadi momen paling menegangkan sekaligus sakral. Pihak perempuan diwakili oleh wali, sementara pihak laki-laki mengucapkan kalimat kabul dengan tegas dan jelas di depan saksi.

Setelah ijab kabul dinyatakan sah, biasanya dilanjutkan dengan penandatanganan buku nikah, doa bersama, dan penyerahan mahar secara simbolis kepada pengantin perempuan. Di beberapa keluarga Betawi, momen ini juga diiringi pembacaan shalawat dan ucapan selamat dari keluarga besar.

“Ketika ijab kabul diucapkan dengan lantang dan dijawab sah oleh para saksi, seisi ruangan seakan menarik napas lega. Di situlah puncak haru dan bahagia bercampur jadi satu.”

Kemeriahan Palang Pintu dan Arak Arakan Pengantin

Selepas akad, atau pada hari resepsi, salah satu ciri khas paling terkenal dari tahapan pernikahan adat Betawi adalah tradisi palang pintu. Inilah momen yang sering dinanti tamu dan warga sekitar karena menyuguhkan hiburan sekaligus pesan moral.

Palang Pintu Sebagai Ikon Tahapan Pernikahan Adat Betawi

Palang pintu adalah tradisi penyambutan rombongan pengantin laki-laki yang datang ke rumah pengantin perempuan. Di depan rumah, sudah berdiri jawara Betawi yang siap “menghalangi” rombongan masuk. Untuk bisa lewat, harus ada adu pantun, silat, dan kadang bacaan ayat suci Al Quran.

Biasanya, seorang jawara dari pihak laki-laki akan maju menghadapi jawara dari pihak perempuan. Mereka berbalas pantun dengan gaya khas Betawi yang jenaka namun sopan. Setelah itu, dilanjutkan dengan atraksi silat. Di sela sela atraksi, ada pesan pesan tentang keberanian, tanggung jawab, dan kehormatan laki-laki dalam menjaga rumah tangga.

Tradisi ini menggambarkan bahwa pengantin laki-laki harus membuktikan diri layak menjadi pelindung bagi istri dan keluarga barunya. Setelah “menang” secara simbolis, barulah rombongan dipersilakan masuk dan prosesi berikutnya dilanjutkan.

Arak Arakan dan Musik Tradisional

Dalam beberapa pernikahan adat Betawi, pengantin diarak dengan iringan musik tradisional seperti tanjidor atau marawis. Arak arakan ini menambah suasana meriah, sekaligus menunjukkan kebanggaan keluarga atas pernikahan yang berlangsung.

Pengantin laki-laki dan perempuan yang sudah resmi menjadi suami istri akan duduk di pelaminan dengan busana pengantin khas Betawi. Busana ini terinspirasi dari pakaian raja dan ratu, dengan warna mencolok seperti merah, emas, atau hijau, serta hiasan kepala yang megah.

Hidangan, Silaturahmi, dan Doa Bersama

Setelah rangkaian adat utama selesai, tahapan pernikahan adat Betawi berlanjut pada resepsi dan ramah tamah. Di sinilah masyarakat sekitar, kerabat jauh, dan teman teman kedua mempelai datang memberikan ucapan selamat.

Resepsi Sebagai Bagian Tak Terpisahkan dari Tahapan Pernikahan Adat Betawi

Resepsi pernikahan adat Betawi biasanya berlangsung meriah, dengan sajian makanan khas seperti nasi uduk, semur jengkol, soto Betawi, asinan, dan aneka kue tradisional. Musik gambang kromong, tanjidor, atau orkes modern bisa mengiringi suasana, tergantung selera keluarga.

Para tamu datang silih berganti, menyalami pengantin dan keluarga, lalu menikmati hidangan. Di beberapa tempat, masih ada tradisi memberi amplop atau bingkisan sebagai bentuk doa dan dukungan untuk kehidupan baru kedua mempelai.

Resepsi bukan hanya ajang makan bersama, tetapi juga momen mempererat silaturahmi. Keluarga yang jarang bertemu bisa berkumpul, berbagi cerita, dan menyaksikan kebahagiaan pengantin.

Menjaga Warisan: Tahapan Pernikahan Adat Betawi di Era Modern

Di tengah perubahan zaman dan gaya hidup serba praktis, sebagian tahapan pernikahan adat Betawi mengalami penyesuaian. Ada keluarga yang memilih merangkum beberapa prosesi agar lebih singkat, namun tetap berusaha mempertahankan inti tradisi, seperti akad nikah, palang pintu, dan busana adat.

Generasi muda Betawi dan warga Jakarta pada umumnya mulai kembali melirik adat ini sebagai identitas budaya yang patut dibanggakan. Banyak pasangan yang memadukan konsep modern dengan tahapan pernikahan adat Betawi, misalnya menggelar resepsi di gedung mewah tetapi tetap menghadirkan palang pintu dan busana pengantin Betawi.

Pada akhirnya, kelengkapan tahapan pernikahan adat Betawi bukan hanya soal mengikuti serangkaian prosesi, tetapi juga tentang menghargai akar budaya, menghormati orang tua, dan menjadikan pernikahan sebagai peristiwa yang bermakna bagi keluarga dan lingkungan sekitar. Dengan cara itu, tradisi Betawi tidak sekadar dikenang, tetapi terus hidup di tengah hiruk pikuk kota Jakarta yang tak pernah tidur.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *